Thursday, January 23, 2014

Sejarah Istana Kuning Kerajaan Kutaringin Pangkalan Bun


Sejarah Istana Kuning Kerajaan Kutaringin Pangkalan Bun



Berada di kota kecil Pangkalan Bun belum lengkap rasanya bila tidak mengunjungi Istana Kuning, sebuah situs peninggalan bersejarah di Kalimantan Tengah.

Adalah Pangeran Adipatih Anta Kusuma yang mendirikan satu-satunya Kerajaan di Kalteng ini, dan sekaligus menjadi Raja Pertama di Kesultanan Kutaringin. Pangeran Adipatih merupakan anak ke empat dari Raja Banjar. Pendirian kerajaan ini berdasarkan perundingan dengan ayahnya untuk menghindari perebutan tahta dari kakak tertua beliau yang menjadi ahli waris Kesultanan Banjar.

Sang pangeran pun memutuskan pergi untuk mendirikan kerajaan baru di daerah tengah Kalimantan. Ketika berkelana di hutan bersama dengan prajuritnya, sang Pangeran terkejut saat melihat puluhan pohon beringin besar yang tertata sangat rapih di pedalaman hutan, dan akhirnya menjadi inspirasi nama kesultanannya, yang berasal dari dua kata yaitu kuta (pagar) dan ringin (beringin).

Kesultanan Kutaringin merupakan Kerajaan Islam PERTAMA dan SATU-SATUnya di Kalimantan Tengah. Pada saat kekuasaan Pangeran Ratu Imannudin, raja ke sembilan kesultanan saat itu memutuskan memindahkan kerajaan ke daerah baru, dikarenakan daerah baru tersebut memiliki letak yang jauh strategis dan aman bagi sebuah kerajaan.

Istana Kerajaan baru Kesultanan Kutaringin diberi nama dengan Istana Kuning. Istana Kuning terdiri dari empat bangunan yaitu: Bangsal (tempat penerimaan tamu kerajaan), Rumbang (tempat raja bersemedi), Dalem Kuning (pusat pemerintahan, dan tempat tinggal raja), dan Pedahiran (ruang makan kerajaan).
Namun naas, pada tahun 1986 istana yang terkenal dengan pintu kerajaan berwarna kuning itu di bakar oleh seorang wanita gila bernama Draya dan tidak meninggalkan satu barang pun. Hingga saat ini, replika istana yang telah selesai di bangun kembali pada tahun 2000 masih setia menunggu kembali di isi oleh Ditjen Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata di setiap ruangannya.

Notes:
Bila anda hendak mengunjungi Istana Kuning anda diharuskan menggunakan jasa guide Istana yang merupakan kerabat Istana.
Sumber : http://arsyil.blogspot.com/2013/02/sejarah-istana-kuning-kerajaan.html

Sunday, January 12, 2014

TUNAS KELAPA

 
 
Arti Lambang Tunas Kelapa ;
1.     Akar
Akar artinya Dasar/awal. Maksudnya yaitu seorang pramuka harus memiliki dasar yang kuat berupa keimanan kepada Tuhan YME seperti termaktub dalam bunyi Dasa Dharma pertama. Seseorang pramuka yang memiliki keimanan yang kuat sebagai dasarnya merupakan awal yang luhur sebagai dasar pembentukan kepribadian seorang pramuka yang berbudi luhur dan berjiwa serta berwatak pancasila.
2.   Buah Kelapa
Buah Kelapa artinyaCikal Bakal/ Penduduk Asli. Maksudnya yaitu seorang pramuka sebagai penduduk asli suatu daerah tertentu atau sebagai cikal bakal daerah tertentu harus memiliki kepedulian untuk memajukan daerahnya secara khusus daerah yang ditempati dan secara umum dan luas untuk memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3.   Tunas
Tunas artinya subur/penerus. Maksudnya yaitu kita sebagai seorang pramuka harus memiliki sifat semangat yang berkobar-kobar seperti api unggun yang menyala sebagai generasi penerus yang masih subur (remaja atau pemuda/i) untuk melanjutkan pembangunan di sektor/bidang pendidikan, perekonomian, pertanian, perindustrian dan pemerintahan demi kemajuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
4.   Tunas Tinggi
Tunas Tinggi artinya Cita-cita yang tinggi. Maksudnya yaitu sebagai seorang pramuka harus memiliki keinginan menggebu-gebu yang diwujudkan dengan keinginan (harapan) yang tinggi dalam bentuk cita-cita yang terwujud. Cita-cita yang terwujud adalah cita-cita yang diraih dengan usaha dan kerja keras serta doa restu Orang Tua. Miliki cita-cita setinggi langit dan bercita-citalah untuk menjadi orang yang berarti bukan diartikan, menjadi orang yang berguna bukan digunakan, menjadi orang yang bermanfaat bukan dimanfaatkan.
Menurut Pembina Kak Is : “Menjadi orang yang sederhana tapi istimewa dengan memiliki pengetahuan/ wawasan keilmuan yang luas, skill (keterampilan) yang terampil, kemampuan yang handal IPTEK dan IMTAQ serta siap menghadapi tantangan zaman yang semakin maju, canggih dan modern”.
Uraian dari Arti Kiasan Lambang Tunas Kelapa ;
1.    Buah kelapa dalam keadaan tumbuh dinamakan Cikal, istilah cikal bakal di Indonesia, maksudnya adalah penduduk asli yang pertama yang menurunkan generasi baru. Jadi, lambang buah kelapa yang tumbuh mengiaskan bahwa setiap Pramuka merupakan inti dari kelangsungan hidup bangsa Indonesia.
2.    Buah kelapa dapat bertahan lama dalam keadaan yang bagaimanapun juga. Lambang buah kelapa tersebut mengiaskan bahwa setiap Pramuka adalah seorang kuat dan sehat jasmani serta rohaninya, ulet serta besar tekadnya dalam menghadapi segala tantangan dalam hidup dan menempuh segala ujian dan kesukaran untuk mengabdi pada tanah air Indonesia
3.    Buah Kelapa dapat tumbuh dimana saja. Lambang itu mengiaskan bahwa setiap Pramuka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya (masyarakat) dimanapun dia berada dan dalam keadaan yang bagaimanpun juga.
4.    Pohon kelapa tumbuh menjulang lurus ke atas merupakan salah satu pohon tertinggi di Indonesia. Jadi, Lambang tersebut mengiaskan bahwa setiap Pramuka mempunyai cita-cita yang tinggi dan lurus, yakni mulia, jujur dan tetap tegak tidak mudah diombang-ambingkan oleh sesuatu.
5.    Akar kelapa tumbuh kuat dan erat di dalam tanah. Lambang tersebut mengiaskan bahwa setiap Pramuka mempunyai tekad dan keyakinan yang baik serta benar untuk memperkuat dirinya dalam mencapai tujuan dan cita-citanya.
6.    Kelapa adalah pohon yang serba guna dari ujung atas hingga akarnya, mengkiaskan bahwa setiap Pramuka adalah manusia yang berguna dan membaktikan diri dan kegunaannya kepada kepentingan tanah air, Bangsa dan Negara kesatuan Indonesia serta kepada umat manusia.

Perbedaan Mendidik dengan Membina

Perbedaan Mendidik dan Membina

a.     Mendidik
Mendidik yaitu proses mentransfer (memberi) ilmu/ pengetahuan dari pendidik (guru) ke peserta didik (Murid, siswa) agar menjadi orang dewasa yang berpengetahuan. 
 








b.     Membina
Membina yaitu proses membentuk dan mempersiapkan orang yang sudah berpengetahuan dengan berbagai wawasan, keterampilan dan melatih berpikir serta berjiwa besar sehingga mampu menjadi seorang yang bisa mentransfer (memberi) ilmu kepada orang lain (mendidik) dan membina. Orangnya disebut Pembina, Caranya disebut Membina, Peserta didik atau murid yang dibina disebut Murid/ Siswa Binaan. 

Tuesday, December 24, 2013

Belajar Mengajar Menurut Al-Qur'an dan Hadits



MOTTO PENDIDIKAN

تََعَلَّمُوا الْعِلْمَ، فَاِنَّ تَعَلُّمَهُ قُرْبََةٌ اِلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ، وَ تَعْلِيْمُهُ لِمَنْ لاَ يَعَلَّمُهُ صَدَقَةٌ، وَ اِنَّ الْعِلْمَ لِيَنْزِلُ بِصَاحِبِهِ فِى مَوْضِعِ الشَّرَفِ وَ الرِّفْعَةِ، وَ اْلعِلْمُ زَيْنٌ ِلاَهْلِهِ فِى الدُّنْيَا وَ اْلآخِرَةِ. (الرببع)


Artinya : “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat”. (Hadits Riwayat Ar-rabii’i)


Pelaksanaan Pembelajaran



 Rasulallah SAW bersabda dalam haditsnya, yang artinya sebagai berikut ; 
Artinya :”apabila muncul bid’ah-bid’ah ditengah-tengah umatku wajib atas sorang ‘alim menyebarkan ilmunya (yang benar). Kalau tidak melakukannya maka baginya laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Tidak akan diterima sedekahnya dan kebaikan amalnya”.(H.R.Ar-rabii)

Hadits di atas menjelaskan bahwa kata-kata bid’ah merupakan suatu perbuatan yang menyimpang atau ajaran yang menyalahi ajaran yang benar, ini merupakan persoalan atau gangguan dalam proses penyebaran ilmu yang benar. Rasulallah SAW mewajibkan seorang alim (mengetahui) yang sekaligus sebagai pelaku pendidik Islam dalam menyebarkan ilmu yang benar untuk mengelola dalam meluruskan dan mengembalikan ajaran yang salah tersebut ke arah kesucian dan kemurnian ajaran agama Islam yang benar sesuai Al-Qur’an dan Hadits, sehingga kondisi kembali kondusif dan optimal sehingga tujuan penyebaran pendidikan agama Islam dapat dicapai dan memungkinkan seluruh umat untuk belajar dengan baik tanpa ada keraguan-raguan lagi.[1]
Hadits tersebut menjelaskan dan mengisyaratkan adanya kewajiban seorang pendidik (alim) agar mampu mengelola dan menciptakan lingkungan pembelajaran agar tetap kondusif dan mengembalikannya bila terjadi gangguan sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Hal ini sesuai dengan yang diajarkan Rasulallah SAW dan bahasan di bagian sebelumnya. Mengelola lingkungan pembelajaran merupakan kompetensi seorang pendidik yang harus dimiliki  dan kompetensi ini menentukan berhasil tidaknya proses pembelajaran berlangsung. Kompetensi ini tidak muncul dengan sendirinya melainkan melalui proses pendidikan dan pengalaman mengajar.[2]


[1]M. Faiz Almath, Qobasun min Nuri Muhammad SAW (1100 Hadits Terpilih; Sinar Ajaran Muhammad); Penterjemah A.Aziz Salim Basyarahil, Jakarta : Gema Insani Press, 1991
[2]Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya : Usaha Nasional, 1994

 


Rasulallah SAW menjelaskan bahwa aktivitas seseorang yang beragama islam baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan untuk menuntut ilmu tanpa dibatasi waktu maupun usia, belajar suatu ilmu pengetahuan untuk mencari ketenangan jiwa (memantapkan kebenaran) agama islam sedalam-dalamnya dan memperoleh ridha Allah SWT semata, orang yang berilmu terhindar dari kebodohan/ kefakiran sehingga dapat mengangkat kehormatan diri dan bersikap rendah hati terhadap guru atau orang yang mengajarinya supaya ilmunya bermanfaat. Pada buku qobasun min nuri muhammad saw bab ilmu pengetahuan, Rasulallah SAW bersabda yang artinya : 

Artinya :Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajar kamu.(H.R.Athabrani)[1]


[1]M. Faiz Almath, Qobasun min Nuri Muhammad SAW (1100 Hadits Terpilih; Sinar Ajaran Muhammad); Penterjemah A.Aziz Salim Basyarahil, Jakarta : Gema Insani Press, 1991 


kitab suci Al-Qur’an menjelaskan bahwa hasil belajar merupakan pencapaian seseorang manusia dengan pengetahuan yang telah dimiliki atau keberhasilan dalam menguasai sains pada umumnya dan dengan ilmu pengetahuan kealaman yang dimilikinya atau yang dikuasai untuk dijadikan sumber teknologi bagi kesejahteraannya dalam memanfaatkan lingkungan yang dikelolanya dengan baik sehingga pantas disebut “khalifah di bumi”. Keberhasilan keteknikan (IPTEK) bergantung pada kemampuan orang memilih kondisi yang mendorong alam untuk bertindak seperti yang diinginkan, sudah barang tentu tingkah laku alam raya ini dikendalikan oleh sunnatullah (hukum alam). Hal tersebut termaktub dalam ayat suci Al-Qur’an surah Al-Jaatsiyah ayat 13, Allah berfirman yang artinya :

Artinya :”Dan Dia (Allah) menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.(Q.S.Al-Jaatsiyah : 13)[1]

Ayat tersebut menyatakan bahwa seluruh isi langit dam bumi akan ditundukkan Al-Khaliq (Allah SWT) bagi umat manusia dengan keteknikan atas keberhasilan dari penerapan sains dan diberikan kepada mereka yang mau melibatkan akalnya, menggunakan pikirannya untuk terus belajar dan belajar hingga menemukan sesuatu hal baru yang memiliki manfaat yang luar biasa. Kata-kata “Allah menundukkan”, menegaskan kepada manusia bahwa Allah SWT menundukkan segala ciptaan-Nya dengan peraturan-Nya sehingga orang mengambil faedahnya sepanjang ia bertindak sesuai peraturan-Nya.[2]


[1] Al-Aliyy, Al-Quran dan Terjemahannya, Depertemen Agama RI: Diponegoro, 2005
[2] Achmad Baiquni, Al-qur’an dan Ilmu Pengetahuan Kealaman, Jakarta : Dana Bhakti Prima Yasa, 1996